09.05.2005
Mencapai Kebahagiaan
Mencapai hidup yang bahagia sebenarnya tidak sulit. Kebahagiaan sebenarnya bersumber di dalam diri kita, bukan di luar sana. Untuk mencapai kebahagiaan, kita cuma perlu menyelami diri kita sendiri. Menelusuri hati dan paradigma kita sendiri.
Ada lima hal yang sering menyebabkan kita tak bahagia;
Pertama, adanya keyakinan bahwa Anda tidak akan bahagia tanpa memiliki hal-hal yang Anda pandang bernilai. Anda sudah memiliki pekerjaan tetap dan tingkat kehidupan yang lumayan, tapi Anda masih merasa kurang. Anda merasa akan berbahagia bila memiliki uang lebih banyak, rumah lebih besar, mobil lebih bagus, dan sebagainya. Pikiran Anda dipenuhi oleh benda-benda yang Anda kira dapat membahagiakan Anda. Padahal, Anda tidak bahagia karena lebih memusatkan perhatian pada segala sesuatu yang tidak Anda miliki, dan bukannya pada apa yang Anda miliki sekarang.
Kedua, Anda percaya bahwa kebahagiaan akan datang bila Anda berhasil mengubah situasi dan orang-orang di sekitar Anda. Anda tak bahagia karena pasangan, anak, tetangga, dan atasan Anda tidak memperlakukan Anda dengan baik. Kepercayaan ini salah. Anda perlu menyadari bahwa amat sulit mengubah orang lain. Bukannya berarti Anda harus menyerah, silakan terus berusaha mengubah orang lain. Namun, jangan tempatkan kebahagiaan Anda di sana. Jangan biarkan lingkungan dan orang-orang di sekitar Anda membuat Anda tak bahagia. Kalau Anda tak dapat mengubah mereka, yang perlu Anda ubah adalah diri Anda sendiri, paradigma Anda.
Ketiga, keyakinan bahwa Anda akan bahagia kalau semua keinginan Anda terpenuhi. Padahal, keinginan itulah yang membuat kita tegang, frustrasi, cemas, gelisah dan takut. Terpenuhinya keinginan Anda paling-paling hanya membawa kesenangan dan kegembiraan sesaat. Itu tak sama dengan kebahagiaan.
Keempat, Anda tak bahagia karena cenderung membanding-bandingkan diri Anda dengan orang lain. Saya pernah bertemu eksekutif yang berkali-kali pindah kerja hanya karena kawan akrabnya semasa kuliah dulu memperoleh penghasilan lebih besar dari dirinya. Karena itu, setiap ada tawaran kerja, yang dilihat adalah apakah ia dapat mengungguli atau paling tidak menyamai penghasilan kawannya. Ia bahkan tak peduli bila harus berganti karier dan pindah ke bidang lain.
Sampai suatu saat ia menyadari bahwa tak ada gunanya "mengejar" sahabat karibnya. Sejak itulah ia mencari pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minatnya sendiri. Ia kini bahagia dengan pekerjaannya dan tak pernah ingin tahu lagi penghasilan sahabatnya.
Kelima, Anda percaya bahwa kebahagiaan ada di masa depan. Anda terlalu terobsesi pepatah "bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian". Kapan Anda bahagia? "Nanti, kalau sudah jadi manajer," kata Anda.Persoalannya, saat menjadi manajer, Anda tambah sibuk, waktu Anda tambah sempit.
"Saya akan bahagia nanti, kalau sudah menjadi direktur atau dirjen, gubernur, menteri, presiden." Nah, daftar tunggu ini masih dapat terus diperpanjang. Namun, Anda tak juga bahagia. Kalau demikian yang terjadi adalah, "bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang entah kapan." Kebahagiaan telah Anda letakkan di tempat yang jauh. Padahal, sebenarnya kebahagiaan berada sangat dekat dan dapat Anda nikmati di sini, sekarang juga!
Apa yang terjadi pada kita mungkin serupa dengan pengalaman dua ekor ikan berikut. Ikan yang muda bertanya kepada ikan yang lebih senior. "Anda lebih berpengalaman dari saya. Di manakah saya dapat menemukan samudra kebahagiaan? Saya sudah mencarinya ke mana-mana, tetapi sia-sia saja!" "Samudra adalah tempat engkau berenang sekarang," ujar ikan senior. "Hah? Ini hanya air! Yang kucari adalah samudra," sangkal ikan yang muda. Dengan perasaan sangat kecewa ia pergi mencarinya di tempat lain.
Hal itu juga dapat terjadi pada Anda. Padahal, kebahagiaan itu tak perlu Anda cari.Anda hanya perlu menumbuhkan kesadaran dan menikmati apapun yang sedang Anda lakukan. Dengan demikian, Anda akan menemukan kebahagiaan itu sekarang. Saat ini juga!
*dari milis smun21 Jkt*
09:35 Posted in sebuah catatan | Permalink | Comments (11) | Email this


Comments
masalahnya banyak orang mengukur kebahagiaan lewat tingkat kesuksesan, padahal itu 2 hal yg amat sangat berbeda ;)
Posted by: mas-alit | 09.05.2005
nice entries sungguh bagus banget, makasih untuk sharingnya
Posted by: fajar | 27.09.2005
Tulisannya bagus mbak. Saya makin bahagia setelah membaca tulisan mbak..
Posted by: taufiqelrahman | 25.02.2009
Salam kenal^^ nice
Posted by: Shien | 12.05.2009
saya senang dan sedikit lega setelah aku baca artikel diatas.ugetelah dipikir2 dan saya renungkan artikel trsebut sedikit membuka mata hati saya tetang arti sebuah arti suatu kebahagiaan...intinya banyak2 bersyukur aja terhadap apa yang kita miliki sekarang...thanks
Posted by: Moh arofik | 11.06.2009
Bahagia terletak dihati, oleh karena itu jika hati kita senantiasa bersyukur atas segala anugerah Ilahi, dan sentiasa mengingatNya, Insya Allah bahgia itu akan kita rasai.
Posted by: S.H.Alatas | 29.06.2009
Salam,
Saya suka isi artikel ini, blog Anda bagus!
Keep the go forward!
hijrah_euy@yahoogroups.com
Posted by: Eire Ikhsan | 03.09.2009
keren
Posted by: drajad | 10.09.2009
Dicubit = Sakit, tetatpi dicubit kekasih kita malah tersenyum ada apa dengan hati kita, ternyata hati sedang diterangkan oleh fikiran bahwa cubitan kekasih kita adalah ungkapan sayang. ternyata apapun kejadiannya jika diterangkan tentang sebuah keuntungan maka yang ada adalah kebahagiaan....mari berbahagia karena hari ini besok sudah tidak ada jangan sampai rugi
Posted by: jum's | 13.09.2009
keren bro...............................
Posted by: b-All alias M-cret | 13.09.2009
orang yang tdk/blm merasakan kebahagiaan di sebabkan:1. belum meyakini sepenuhnya bahwa renca Tuhan dalam hidup kita selalu yg terbaik.2 belum sepenuhnya meyakini bahwa Tuhan itu maha segala-galanya.3.paradigma yang klasik yang masih di pertahankn hingga kini padahal sdh tidak ideal.
Posted by: ananda.gm | 06.11.2009
Post a comment