20.03.2006

Softball

Dua Minggu yang lalu gw nonton suami tanding softball di kompleknya caltex Rumbai (well today the name is Chevron). Di pertandingan tersebut, ada beberapa orang Bule Amerika yang juga ikutan bertanding. Mereka para pria2 bule itu membawa serta keluarga mereka - istri serta anak2 mereka - untuk ikutan bermain di tanah berpasir. Ketika gw mengatakan maen di tanah berpasir, hal itu benar-benar dilakukan oleh anak2 bule itu, yang kalo gw liat dari tinggi dan juga fisik mereka, paling usianya sekitar 2-4 tahun.

Yang menariknya, para bule itu, cuek aja membiarkan anak2 mereka bermain kotor2an dan bahkan memanjat2 bangku stadion softball yang lumayan tinggi untuk ukuran balita. Bahkan para istri yang notabene ibu mereka pun, gw perhatikan tidak pernah sekali pun "ikut serta" dalam permainan kecil anak2 mereka. Anak2 bule2 itu hanya diberikan pengarahan oleh sang ayah: "You can play in that area, but please not too far from this field, ok?" and the son will nod along and said: "Ok Daddy". That's it! and they listen to what their daddy said.

Anak2 bule itu, kemudian bermain sesuka hati mereka, maen pasir, maen semprot2an air, bikin istana pasir, maen bola, maen throw-catch, dan manjat2 tiang di sekitar lapangan. Gw jadi kebayang, kalo mereka adalah anak2 indonesia sudah pasti mereka digawangi oleh orangtua mereka, kalo ga si ayah ya si ibu. Sudah pasti akan terdengar suara2 seperti: "Jangan ke sana nak, kotor" atau "Awas! ga usah ke sana, Tinggi nanti kamu jatuh" atau "Jangan jauh2 Nah, nanti kamu nyasar!" dan perkataan2 lainnya yang dapat membuat sang anak jadi berpikir dua kali untuk bermain.

Satu hal yang lucu terjadi. Salah satu anak bule tadi (yang paling kecil, mungkin belum lagi 3tahun usianya), datang ke bapaknya dan "curhat" bahwa matanya kena pasir karena saudaranya melempar pasir ke matanya. He said: "Daddy, he throw sand into my eyes" then the father called his brother and said:"Why did u do it to your brother?You no longer can play. Go sit over there, and think what u just did to your brother!" Si anak bule yang melempar pasir menurut perkiraan gw, umurnya baru 4tahun.

Dan yang membuat gw takjub, sang anak tidak 'mewek' alias nangis karena dimarahin ayahnya. Si anak bule yang melempar pasir, di-grounded nggak boleh maen lagi, dengan patuhnya duduk di tempat yang disuruh ayahnya. Dia nggak nangis, nggak protes, tapi menurut saja. Bayangkan jika hal ini terjadi sama anak indonesia. Hampir bisa dipastikan, sang ibu akan tergopoh2 mendatangi dan menggendong anaknya yang terkena pasir, dan memarahi saudaranya. Yang terkena pasir nangis, apalagi yang kena marah Duh kebayang deh!

Gw courious, gimana sih nih orang bule ngedidik disiplin anak2 mereka? Kenapa anak indonesia nggak bisa seperti itu? Nggak pernah satu kali pun gw ngeliat, anak2 bule itu digendong sama ibunya, meskipun usia mereka baru 2 atau 3 tahun. Kalau diajarkan berargumen, Mizan keponakan gw juga udah dididik seperti itu. Tapi kalau dalam hal cengeng-nya, masih ada. Terus terang aja, gw senang ngeliat anak2 bule itu setiap hari minggu bermain kotor2an (bahkan tanpa sepatu!mana ada anak kecil indonesia, dibiarkan berkotor2an nggak pake sepatu sama orangtuanya)!

Comments

Membaca tulisan anda mengenani orang yang mendidik anak2nya. Menurut saya perbedaan orang bule dan orang kita adalah. Orang2 kita itu selalu dimanja dari kecil. Sebagian besar anak2 Indonesia itu dibesarkan oleh pembatunya (nanny). Orang tua indonesia itu perannya cuma merintah si pembantu untuk "bikin ini itu , gantiin baju anak, kasih makan, mandiin anak dll". Anak2 indonesia dibesarkan tanpa good role model, yang penting anak2 pake baju bagus, punya mobil bagus, punya rumah bagus, punya uang. Basically they never teach them the value of life and how to behave.
With the european family, most of parents are working full time. When they come home from work they are still have to do some housework, cooking dinner for family, help the children with their homework, etc etc. and they teach the kids to do some chores in the house like: clean their own bedrooms, do the dishes, take the rubbish bag out once a week and they get pocket money for that, while in Indonesia the kids get the money anytime they like from their parents. Indonesian kids are lack of discipline, dont know hard it is to earn the money. Too easy for them!!!!, but hey.... every family raise their children in different way, just be happy what you get dont compare with others.

Posted by: Judy Walsh | 20.10.2006

As my grandmother always said. Spare the "chores" and spoil the child.

Posted by: Furniture Stores | 17.07.2009

Post a comment