13.05.2005
Detokfisikasi
Kayaknya sih, udh beberapa hari ini badan gw rasanya berat banget. Pegel2 linu gitu deh, kayak masuk angin. Ga tau juga kenapa gw masuk angin, pdhl gw udah biasa mandi jam8 atau stgh9 malem pake aer dingin apa mungkin kecapekan yah? Kayaknya nggak juga, tp knp ya bo?
Ada artikel yg cukup menarik gw baca di salah satu majalah wanita, mengenai detoksifikasi tubuh kita. Mulai dari detok badan (fisik) kita, maupun detok pikiran (terapi jiwa) kita. Sebetulnya gw dah lama sih mendengar ttg terapi batu giok - kita berbaring di atas pembaringan yang dihubungkan dengan mesin dan batu giok berwarna-warni - yang dapat mengurangi berbagai keluhan masyarakat perkotaan pada umumnya. Mulai dari migrain, capek dan pegel, encok, asam urat, hinggal ginjal dan diabetes. Yup! memang akhir2 ini, semakin banyak tawaran cara untuk berobat selain berkonsultasi dengan dokter. Fenomena ini sebetulnya menarik, mengapa demikian? Apakah karena semakin hari semakin banyak terjadi kasus mal praktek? Ga tau juga deh gw!
Anyway, mungkin gw akan mencoba terapi dengan batu giok itu untuk mengobati migrain dan pegel linu badan gw, karena selama ini gw masih mengandalkan pembokat gw dng pijat tradisional dengan menggunakan minyak zaitun dari arab. Tapi, gw tersenyum ketika membaca detoksifikasi pikiran. Masih menurut artikel majalah wanita yg gw baca, ternyat...penyakit2 seperti migrain dan pegel linu, maag dan bahkan penyakit yang lumayan parah awalnya dipicu dari stress yang berawal dari penyakit pikiran.
Jika kita bisa melakukan detoksifikasi pikiran, niscaya penyakit2 badan spt yg gw sebutin di atas, bisa dicegah. Menurut artikel itu, ada klinik detoksifikasi pikiran di daerah sunter yg cukup berhasil 'menyembuhkan' pasiennya dari penyakit pikiran dan tidak lagi mengeluh migrain, sakit kepala, pegel linu, dan maag.
Wah...kl begini menurut gw sih ya...harusnya perkembangan dan pertumbuhan klinik2 detoksifikasi pikiran menjamur di mana2, biar masyarakat lebih aware kalo migrain, maag, bisa 'diobati' dengan detoksifikasi pikiran..Gw jd mikir nih, daripada gw melakukan detoksifikasi tubuh, lebih baik gw detoksifikasi pikiran sebelum penyakit pikiran berkembang menjadi penyakit tubuh kan? karena bagaimana pun juga, lebih baik mencegah daripada mengobati toh?
*tulisan iseng di sore hari*
17:30 Posted in sebuah catatan | Permalink | Comments (1) | Email this
11.05.2005
Lelah
Setiap hari kuhitung menit demi menit
Kupikirkan kapan waktu yang tepat
untuk mengutarakan maksud hatiku padanya
Namun sesungguhnya yang terjadi adalah
Semakin lama ku ulur waktu
semakin lelah hati ini
Bukan suatu hal yang luar biasa
jika kukatakan, saat ini sudah mencapai
titik kejenuhan diriku padanya
Semua hal yang berhubungan dengannya
membuatku muak, meninggalkan kesan
mendalam dan sedikit trauma
Setiap kali kumerasa bahwa ku telah siap
untuk mengutarakan isi hatiku,
saat itu juga, rasa takut menyergapku
Ada satu hal yang sering menghinggapi diriku
selama ini, bahwa sebagai seorang manusia
aku dapat digolongkan kepada tipe
manusia yang cenderung lemah dalam artian
sering tidak tega untuk mengatakan tidak
dan bertindak tegas
Tentu bukan tanpa alasan mengapa aku
menggolongkan diriku ke dalamnya
Karena hal yang sangat kuhindari adalah
terciptanya jarak dan suasana yang
dapat memicu terjadinya rasa dendam
Kini, waktuku tidak banyak lagi yang tertinggal
Minggu lalu kami sempat bercakap-cakap
dan hati kecilku berteriak dengan gembira bahwa
inilah saatnya! karena kurasa hati kecilku pun
sudah di luar batas kemampuannya untuk
menerima semua ini
Tiba-tiba, sarafku mengirimkan pesan ke otakku
Mengapa aku harus takut mengutarakan
maksud hatiku padanya?
Mengapa aku harus memusingkan apa
yang akan terjadi setelah aku mengutarakan
maksud hatiku padanya?
Mengapa aku harus mementingkan perasaan orang lain
dan sering mengorbankan perasaanku sendiri?
Jika kubicarakan dengan baik-baik,
dan dengan tujuan yang baik pula
tentunya dirinya tidak ada alasan untuk menolak
perkataanku, kan?
Kini, yang kuperbuat hanyalah meminta kemudahan
padaNya untuk berbuat hal yang Insya Allah
menuju kesempurnaan agamaku (amin)
10:20 Posted in sebuah catatan | Permalink | Comments (0) | Email this
09.05.2005
Mencapai Kebahagiaan
Mencapai hidup yang bahagia sebenarnya tidak sulit. Kebahagiaan sebenarnya bersumber di dalam diri kita, bukan di luar sana. Untuk mencapai kebahagiaan, kita cuma perlu menyelami diri kita sendiri. Menelusuri hati dan paradigma kita sendiri.
Ada lima hal yang sering menyebabkan kita tak bahagia;
Pertama, adanya keyakinan bahwa Anda tidak akan bahagia tanpa memiliki hal-hal yang Anda pandang bernilai. Anda sudah memiliki pekerjaan tetap dan tingkat kehidupan yang lumayan, tapi Anda masih merasa kurang. Anda merasa akan berbahagia bila memiliki uang lebih banyak, rumah lebih besar, mobil lebih bagus, dan sebagainya. Pikiran Anda dipenuhi oleh benda-benda yang Anda kira dapat membahagiakan Anda. Padahal, Anda tidak bahagia karena lebih memusatkan perhatian pada segala sesuatu yang tidak Anda miliki, dan bukannya pada apa yang Anda miliki sekarang.
Kedua, Anda percaya bahwa kebahagiaan akan datang bila Anda berhasil mengubah situasi dan orang-orang di sekitar Anda. Anda tak bahagia karena pasangan, anak, tetangga, dan atasan Anda tidak memperlakukan Anda dengan baik. Kepercayaan ini salah. Anda perlu menyadari bahwa amat sulit mengubah orang lain. Bukannya berarti Anda harus menyerah, silakan terus berusaha mengubah orang lain. Namun, jangan tempatkan kebahagiaan Anda di sana. Jangan biarkan lingkungan dan orang-orang di sekitar Anda membuat Anda tak bahagia. Kalau Anda tak dapat mengubah mereka, yang perlu Anda ubah adalah diri Anda sendiri, paradigma Anda.
Ketiga, keyakinan bahwa Anda akan bahagia kalau semua keinginan Anda terpenuhi. Padahal, keinginan itulah yang membuat kita tegang, frustrasi, cemas, gelisah dan takut. Terpenuhinya keinginan Anda paling-paling hanya membawa kesenangan dan kegembiraan sesaat. Itu tak sama dengan kebahagiaan.
Keempat, Anda tak bahagia karena cenderung membanding-bandingkan diri Anda dengan orang lain. Saya pernah bertemu eksekutif yang berkali-kali pindah kerja hanya karena kawan akrabnya semasa kuliah dulu memperoleh penghasilan lebih besar dari dirinya. Karena itu, setiap ada tawaran kerja, yang dilihat adalah apakah ia dapat mengungguli atau paling tidak menyamai penghasilan kawannya. Ia bahkan tak peduli bila harus berganti karier dan pindah ke bidang lain.
Sampai suatu saat ia menyadari bahwa tak ada gunanya "mengejar" sahabat karibnya. Sejak itulah ia mencari pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minatnya sendiri. Ia kini bahagia dengan pekerjaannya dan tak pernah ingin tahu lagi penghasilan sahabatnya.
Kelima, Anda percaya bahwa kebahagiaan ada di masa depan. Anda terlalu terobsesi pepatah "bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian". Kapan Anda bahagia? "Nanti, kalau sudah jadi manajer," kata Anda.Persoalannya, saat menjadi manajer, Anda tambah sibuk, waktu Anda tambah sempit.
"Saya akan bahagia nanti, kalau sudah menjadi direktur atau dirjen, gubernur, menteri, presiden." Nah, daftar tunggu ini masih dapat terus diperpanjang. Namun, Anda tak juga bahagia. Kalau demikian yang terjadi adalah, "bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang entah kapan." Kebahagiaan telah Anda letakkan di tempat yang jauh. Padahal, sebenarnya kebahagiaan berada sangat dekat dan dapat Anda nikmati di sini, sekarang juga!
Apa yang terjadi pada kita mungkin serupa dengan pengalaman dua ekor ikan berikut. Ikan yang muda bertanya kepada ikan yang lebih senior. "Anda lebih berpengalaman dari saya. Di manakah saya dapat menemukan samudra kebahagiaan? Saya sudah mencarinya ke mana-mana, tetapi sia-sia saja!" "Samudra adalah tempat engkau berenang sekarang," ujar ikan senior. "Hah? Ini hanya air! Yang kucari adalah samudra," sangkal ikan yang muda. Dengan perasaan sangat kecewa ia pergi mencarinya di tempat lain.
Hal itu juga dapat terjadi pada Anda. Padahal, kebahagiaan itu tak perlu Anda cari.Anda hanya perlu menumbuhkan kesadaran dan menikmati apapun yang sedang Anda lakukan. Dengan demikian, Anda akan menemukan kebahagiaan itu sekarang. Saat ini juga!
*dari milis smun21 Jkt*
09:35 Posted in sebuah catatan | Permalink | Comments (11) | Email this

