11.04.2005
Gempa
Terkejut kami sekeluarga ketika seusai maghrib, mendengar kabar bahwa gempa dengan kekuatan 7,4 skala richter terjadi di Padang. Meskipun gw adalah keluarga perantauan, tapi kakak dan adik dari bokapku, dan sepupu2 masih tinggal di sana. Belum lagi, pekanbaru juga terjadi gempa.
Wah mules luar biasa rasa perut ini...
Semua nomor Hp dan telpon rumah semua saudara yang di padang dan pekanbaru coba kuhubungi dan tidak ada satu pun yang berhasil dihubungi, Network Failure atau Network Disconnect yang tertera di hp gw setiap ku coba hubungi.
Akhirnya, aku berhasil mendapatkan sambungan dengan sepupuku di Jambi yg mengabarkan bahwa bu dang lagi mengungsi ke rumahnya anaknya di daerah yang lebih tinggi sekitar 30km dari pinggir pantai. Alhamdulillah, tenang rasanya hati ini.
Kemudian, aku teringat sepupuku lainnya di kota padang. Akhirnya aku berhasil mendapatkan sambungan ke Pak Angahku (di Aceh) yg mengabarkan bahwa sepupuku sudah mengungsi ke daerah Indarung. Alhamdulillah, lega rasanya hati ini.
Lalu aku pun susahnya minta ampun menghubungi pekanbaru, namun anehnya (alhamdulillah) aku berhasil mengirimkan sms ke abangku. Begitu kuterima balasan smsnya, aku kembali mules karena mama dan papa abangku sedang berada di payakumbuh yang (lagi2) aku tidak bisa menghubungi hp mereka.
Baru sekitar pukul 22.00 aku mendapatkan konfirmasi kabar seluruh keluargaku baik yang di padang, bukittinggi, payakumbuh dan pekanbaru semua dalam keadaan baik2 saja meskipun ada beberapa yang terpaksa mengungsi ke daerah pegunungan. Kupanjatkan doa dan sujur syukur kepadaNya.
Alhamdulillahirabbil'alamin
09:20 Posted in Little Prayer | Permalink | Comments (0) | Email this
08.04.2005
Jakarta : Hare geneeee????
Gila bo! udah seminggu ini, mulai dari Hari Senin, 4 April macet di jakarta gila2an nek! mau hari senen, selasa, rabu, kamis, dan jumat!!! kl hari senen dan jumat emang langganan macet total baik pagi maupun malem (di atas jam 7), dengan waktu tempuh paling cepet 1,5 jam, dari rumah gw di rawamangun ke blok m! Nah, biasanya kl hari selasa, rabu, dan kamis jalanan lumayan bersahabat, dengan waktu tempuh paling cepet 1 jam baik pagi maupun malem.
Tapi ya bo..!buset dah...seminggu ini, betis gw bertambah gedenya nih! apalagi yang waktu jakarta hujan deras disertai pohon2 tumbang! gw dari kantor jam stgh 7 sore, nyampe rumah jam 9 bo!!! yeap!! 2,5 jam perjalanan!!!
besok paginya, gitu lagi...macet mulai dari keluar pintu tol, trus pulangnya juga begitu...ahhhh macet jakarta bisa buat gw frustasi sm nih kota!
Gini neeh, kl gw lg manyun di mobil ndirian!!

Tips2 mujarab menghalau keBTan di mobil dengan bernyanyi2, teriak2, telpon2an sm temen2 (yg menyebabkan pulsa membengkak!) udah gw lakuin, tp TEUTEUP aja bo, tuh BT dateng lagi dateng lagi..!! pgn rasanya punya supir pribadi, biar gw ga ngerasain ngilunya betis nyetir saat macet, tp kan same aje yah bo, kasian supirnye! hehehe
Yeah...yeah i know...jalanin aje hidup ini, daripada stress nganggur, ya ga? ampe kadang kl lagi parkir di jalan TOL (pdhl TOL kan dimaksudkan utk jalan bebas hambatan yak?kok macet jg bo!) , gw berpikir kayaknya makin lama orang kaya makin banyak, buktinya pengajuan kredit mobil di agen2 mobil jumlahnya cenderung meningkat (gw baca di majalah SWA, analisanya ASTRA 2000)..yeah...yeah...i know, mobil udh menjadi bagian dari kebutuhan mobilitas masyarakat perkotaan, setelah argo taksi naik mjd 4000/buka pintu hehehe :p
Eh tapi bener bo, dulu waktu awal2 gw kerja (maret 2004) ampe akhir thn 2004, gw berangkat dari rumah jam7 pagi nyampe kantor (masih) bisa jam8...mulai dari awal 2005 nih, gw berangkat dari rumah jam7 pagi nyampe kantor stgh9..!et dah...puyeng dah sama macetnya jakarta...!!!
Jakarta oh Jakarta...!!!
09:10 Posted in sebuah catatan | Permalink | Comments (4) | Email this
07.04.2005
Kompromi

Kebimbangan akhir2 ini kerap menghampiri dirinya.
Pertanyaan2 "mengapa begini mengapa begitu" sering menjadi bunga tidurnya akhir2 ini.
Ketika ia bertanya pada orang terdekat, jawaban2 'ala kadarnya' ataupun 'njelimet' selalu diterimanya.
Namun, ketika kebimbangan berganti menjadi kegundahan hati yang tak bisa diabaikan begitu saja, ia menjadi sosok yang sukar berkompromi.
Seorang kawan mengatakan pada dirinya bahwa hidup harus berkompromi
ketika ingin menggapai sesuatu di luar jangkauan.
Jika memang di luar jangkauan, apakah tidak lebih mudah menggunakan "alat" saja? pikir dirinya
Penggabungan antara kompromi dan alat akan menjadi sebuah adonan yang sangat bagus untuk dicoba dalam kehidupanmu, terang sang kawan lebih lanjut.
Dan kegundahan hati pun menjadi santapan dirinya setiap hari.
Ketika sarapan, kegundahan menjadi menu dengan terlalu banyak racikan bumbu di dalamnya
Ketika makan siang, kegundahan menjadi menu yang membuat perut kenyang namun kosong
Ketika makan malam, kegundahan menjadi menu sebagai pengantar tidur
Semakin sering dirinya memikirkan kegundahan, semakin dekat rasanya
Semakin sering dirinya memikirkan kegundahan, seperti ada yang hilang jika sehari tak merasakannya
Semakin sering dirinya memikirkan kegundahan, semakin mengerti dirinya tentang sebuah perasaan
Semakin sering dirinya memikirkan kegundahan, semakin berkompromi lah dirinya dengan hidup
Kini, kegundahan hati telah bersahabat dengan dirinya untuk kemudian berkompromi dalam hidup
*sebuah renungan di suatu pagi*
09:15 Posted in sebuah catatan | Permalink | Comments (2) | Email this

